Bedanya Menulis dan Berbicara Bahasa Korea

Ngobrol pake skype

Hari ini terhitung sudah enam kali saya ngobrol sama temen saya dari Korea pakai skype. Jujur saja, saya mengalami cukup banyak kesulitan untuk melakukan percakapan selain dari percakapan dasar. Beberapa hal utama yang saya perhatikan dari enam pertemuan ini adalah sebagai berikut:

  1. Kurang banyak tau kosakata dan bagaimana kosakata – kosakata tersebut berbunyi. Saya belajar bahwa tau banyak kosakata saja tidak cukup untuk memudahkan percakapan bahasa Korea. Hal yang paling penting selain tau kosakata adalah, tau bagaimana bunyi kata – kata tersebut ketika diucapkan. Beberapa kata yang dipergunakan oleh teman saya terkadang adalah kata – kata yang sudah saya tau, tapi karena saya tidak pernah mengucapkan dan tidak pernah mendengar bagaimana penggunaan kata – kata tersebut dalam kehidupan sehari – hari, saya jadi hanya bisa terdiam bingung ketika kata – kata yang sudah saya kenal diucapkan olehnya.
  2. Menulis dan berbicara dengan bahasa Korea itu beda. Ketika kita menulis untuk chatting atau menulis untuk diary pribadi, kita bisa pelan – pelan memikirkan apa yang ingin kita tulis dan mencari kata – katanya di google translate atau kamus. Nah kalau ngobrol, ya abis waktu kalau begitumah. Jadi tantangannya lebih terasa. Belum lagi banyak kosakata baru yang muncul spontan pas pengen ngomong sesuatu, ini nih yang sering masalah. Tapi secara keseluruham, asik deh! 😀
  3. Untuk kemampuan mendengarkan dan menebak kata apa yang diucap, saya sudah lumayan bagus, tapi ya masih harus ditingkatkan lagi. Karena terkadang saya jadi bingung sendiri ketika cari di kamus atau di google trasnlate, kata yang saya dengar itu tidak ada alias tulisan yang saya tebak salah. Untuk meningkatkan kemampuan menebak kata – kata yang orang lain ucapkan, saya mulai dengerin vlog orang Korea di youtube mulai dari tadi malam. Vlognya ada subtitle bahasa Koreanya, jadi saya bisa cepat dapat umpan balik dari tebakan yang salah.
  4. Untuk kedepannya, saya perlu mempersiapkan topik tertentu yang ingin saya bahas alih – alih berbicara bebas loncat dari satu topik ke topik lainnya. Saya harus sudah mempersiapkan kira – kira apa aja kosakata – kosakata yang akan saya pakai, terus grammar apa yang ingin saya pakai, dan bagaimana saya ingin diskusi tersebut berjalan. Ini yang terpenting. 
  5. Dengan memulai berbicara 3x seminggu menggunakan bahasa Korea, saya bisa lebih merasakan dampak langsung dari usaha yang saya habiskan untuk belajar grammar dan kosakata – kosakata bahasa Korea dan ini membuat saya senang. Meskipun lingkungan makro saya dipenuhi orang – orang yang berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda dll, saya bisa merasa seperti berada di little Korea town ketika saya sampai di kamar dan ngobrol bahasa Korea.

Itu aja sih perkembangannya sekarang. Yang penting adalah, saya harus buat target pencapaian untuk 30 hari kedepan dulu nih sekarang. Tantangan 30 hari lancar bahasa Korea. Target perhari untuk sekarang sih pelajari 30 kosakata. Caranya, pelajari 10 kosakata setiap satu sesi belajar dengan lama sesi 10 menit.

Berarti total waktu 30 menit perhari untuk belajar kosakata, dan sisanya harus dipake untuk menulis cerita pendek atau opini saya menggunakan kosakata – kosakata yang sudah saya pelajari. Nanti setelah ditulis, harus saya hafalkan dan rekam video saat menceritakan apa yang ditulis tadi dan apa yang menarik dari cerita yang sudah saya tulis. Terus upload di youtube supaya progresnya keliatan riil.

Udah itu dulu deh. Selamat belajar semua. Jangan menyerah ya :).

Advertisements

Hidup, Tujuan, dan Aksi

Hilang semangat tanpa tujuan, setanlah temannya. (http://fungyung.com)

Semakin berjalannya hari, semakin berkurang usia saya, semakin sadar juga saya. Kalaulah hidup ini dijalankan tanpa tujuan dan target, bahkan walaupun barang satu jam, pastilah tidak ada semangat di jiwa. Semakin saya jalani hari – hari di semester ini, semakin saya merasakan benarnya hal itu.

Ketika bangun pagi, jika tidak ada kelas atau tidak ada rencana aktivitas, lemas sekali badan rasanya. Inginnya tidur saja sepanjang hari, tak perlulah makan kalau perlu. Cukup kenyang dengan tidur saja.

Tapi anehnya, kalau malam sebelumnya memasang target apa yang harus dikerjakan atau apa yang harus dipelajari, maka semangat dan segar kali bangun itu rasanya. Tahu sudah, tujuan makro saya hanya bisa dicapai jika target – target kecil tercapai dengan sempurna.

Satu hal penting tak boleh terlupa tapi. Tujuan boleh ada, tapi jangan lupa dibuat usaha nyatanya lah. Katanya mau bisa elektronik, tapi satu tahun habis, eh gapernah – pernahnya baca teori elektronik atau bikin rangkaian elektronik. Kan lutju. :/

Katanya mau menguasai 10 bahasa asing, tapi kenapa pula belajarnya asal ikut rasa hati? Kapan mau belajar ya belajar, kapan mau tidak ya tidak. Tidak boleh lah ya seperti itu. Haruslah disiplin.

Buatlah tujuan, tapi jangan lupa juga buat aksi nyatanya ya. Kalau tidak, ya terus – teruslah tujuan itu hanya sekedar jadi tujuan. Sampai umur dunia habispun, gak akan pernah sampailah ke tujuan itu.

Sadar dirilah, oke? Tujuan boleh hebat, tapi usaha harus hebat juga. Janganlah macam orang – orang paok*, banyak kali mimpinya, tapi ada dalam tidur aja semua itu. Dikira, cuman mengkhayal dan tidur, bisa mimpinya di dapat. Gendheng!

Sentul City, 5 November 20170, 2:32 AM.

 

Catatan: *Paok: Idiot tingkat atas.

Mencoba Mengenali Diri

Nasihat yang mudah diucap tapi sulit dilaksanakan (https://quotefancy.com)

Setelah menjalani setengah periode semester lima ini, saya mulai sadar beberapa hal tentang diri saya. Dari mulai kebiasaan – kebiasaan buruk seperti menunda – nunda pekerjaan, atau kebiasaan memotong perkataan orang lain, dan kebiasaan lainnya. Selain itu, saya juga mulai lebih merasa bisa berpikir sedikit rasional ketika menghadapi masalah dan tidak stress seperti masa – masa awal di kuliah dulu. Yah terkadang masih ya, namanya juga manusia 🙂

Kata orang, mengenal diri sendiri itu adalah kunci untuk menaklukkan hidup. Yah, waktu saya SMA atau pas dulu baru masuk kuliah, denger kalimat nasihat itu pasti langsung mengangguk kepala setuju. Tapi sekarang, saat harus bertahan di kondisi yang mana saya bisa melakukan apapun tanpa ada orang mengawasi, barulah tau jalan untuk “mengenal diri sendiri” itu bukan mudah.

Terkadang, saya akui, lebih mudah untuk memperhatikan kebiasaan buruk teman daripada kebisaan buruk yang saya lakukan. Ibaratnya, gajah di pelupuk mata tak terlihat tapi semut diujung laut jauh terlihat jelas. Sebenarnya ampu melihat kebiasaan buruk dan juga kebiasaan baik teman itu penting, karena saya bisa lebih mudah memosisikan diri ketika kita bekerja sama misalnya.

Tapi, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana saya bisa melatih diri saya untuk lebih sadar diri tentang semua hal mengenai diri saya? Tidak hanya mengenali kelemahan, kekuatan saya, dan juga potensi – potensi apa yang bisa saya kembangkan. Selain itu, cara apa yang paling tepat untuk meningkat sebuah hal yang awalnya hanya menjadi “potensi diri” menjadi kekuatan utama saya? Ummm :/

Itulah tulisan hari ini, sebuah catatan dari saya yang sedang mencoba untuk membaiki diri. Malam ini saya pulang ke Bogor sebentar, jadi saya rasa akan banyak waktu untuk merenungi semua hal di kereta nanti :D.

Selamat sore semuanya~ 🙂

Yogyakarta, 2 – November – 2017.

Membaca Cerita dari Eindhoven

TU Eindhoven

Kemarin malam ketika menjelang tidur, saya tiba – tiba penasaran dengan TU Eindhoven di Belanda. Ceritanya sebelum itu, saya habis komentari foto kenalan saya yang kuliah di TU/e dan terus tiba – tiba pas komen saya dibalas, saya secara refleks bertanya tentang kuliahnya di TU/e.

Sebenarnya pertanyaan “Bagaimana kuliahnya” adalah pertanyaan yang pantang atau tidak boleh ditanyakan ke mahasiswa S2, apalagi S3. Kenapa? Karena tentu saja kuliah mereka pusing. Hahaha.

Nah habis komen, saya langsung penasaran banget tuh tentang TU/e. Akhirnya saya bukalah  si mbah gugel untuk melihat – lihat informasi tentang TU/e. Eh ada video yutub tentang profil TU/e, yaudah saya tonton dah itu video. Keren banget sumpah videonya, keren banget!

Continue reading “Membaca Cerita dari Eindhoven”

Semakin Mengerti Percakapan Bahasa Korea

도깨비/ Goblin (google.com)

Telinga saya akhir – akhir ini mulai bisa nangkep kalimat – kalimat yang diucapkan oleh orang – orang yang ngomong bahasa Korea. Belum mantap sih, masih harus dilatih terus supaya kemampuan listening bahasa Korea saya makin joss, tapi setidaknya seneng lah ya terasa perkembangannya semakin bertambahnya hari.

Untuk sekarang, kemampuan saya baru sampai “mengenali” kata apa yang diucapkan dan bagaimana tulisannya, tapi belum tau artinya. Jadi otak saya itu sekarang masih terus bekerja keras bersama telinga untuk menebak; “Apasih yang diomongin sama orang dan bagaimana sih tulisan hangeulnya?”

Continue reading “Semakin Mengerti Percakapan Bahasa Korea”

Cara Terbaik Belajar Bahasa Asing (?)

Speak Your Mind (https://www.pinterest.com/pin/413838653229170563/)

Saya teringat ketika ada waktu berbicara dengan teman – teman, kita sering membicarakan tentang masa depan; apakah ingin lanjut kuliah S2, ataukah ingin kerja, atau jangan – jangan ingin langsung menghalalkan pacar yang sudah lama di cinta(?).

Intinya dari setiap percakapan – percakapan tersebut, ada satu topik yang sering sekali muncul dan pada akhirnya menjadi bahan diskusi pengganti topik nikah masa depan yang sedang asik – asiknya digoreng tadi. Topik tersebut adalah tentang bahasa Inggris.

Continue reading “Cara Terbaik Belajar Bahasa Asing (?)”

The Need of a Log on One’s Life Journey

Keep a log will ya? (http://wallpaperswide.com)

“It is impossible to improve something that you don’t track.” This is so true! I think the reason why most people, including me, failing in making a good habit is due to the problem of tracking things that have been done every day. Like right now, I’ve been studying Korean, Electromagnetism, and also other thing but I feel like I’m still lacking in everything and I never really know what is it that I’m lacking because I never really keep a track of my progress when learning or doing something.

It is impossible to improve something that you don’t track

Continue reading “The Need of a Log on One’s Life Journey”