Girls of the Wild’s | 소녀 더 와일즈

Girls of the Wild’s

One of the dopest manga I’ve ever read is the Girls of the Wild’s (GOTW) or 소녀 더 와일즈 as it is written in the original Korean title. It’s a really outdated manhwa and I’ve finished it twice about a year ago I think.  But damned, even after reading it several times I still get psyched when I read it again now. Its addicting effect is as close as One Piece’s and Kingdom, which, in my opinion, is the best manga man ever created. Hail Eiichiro Oda-sensei and Yasuhisa Hara (原泰久) sensei! Hahaha.
Continue reading “Girls of the Wild’s | 소녀 더 와일즈”

Advertisements

Praktik Berbahasa Asing dengan Monolog

Salah satu teknik yang selalu saya gunakan dari dulu untuk belajar bahasa Inggris, Spanyol, Arab, Korea, hingga bahasa Jerman sekarang adalah teknik monolog. Awalnya, saya mulai menggunakan teknik ini karena saya tidak punya teman penutur asli bahasa Inggris maupun teman Indonesia yang lancar berbahasa Inggris untuk berlatih. Tapi semakin sering mempraktikan monolog, semakin cinta saya terhadap teknik ini. Karena saat saya tidak punya sesiapun untuk latihan bahasa, saya masih bisa terus menerus meningkatkan kemampuan berbicara saya menggunakan bahasa asing yang sedang saya pelajari.

Salah satu anggapan umum yang sering saya dengar adalah; latihan berbicara dengan penutur asli adalah satu – satunya cara untuk melancarkan bahasa asing. Meskipun hal ini benar, pada kenyataannya sulit sekali untuk dilakukan. Karena pertama, kita harus bertemu dengan penutur asli, artinya latihan kita tergantung ada atau tidaknya kawan berlatih. Selain itu kalau pun bertemu dengan penutur asli, tidak semua bisa sabar menunggu kita yang berbicara terbata – bata. Apes – apes ya langsung ditinggal sama si native karena dia kesal. Oleh karena itu, disinilah teknik monolog berperan besar untuk membantu kita.

Continue reading “Praktik Berbahasa Asing dengan Monolog”

cintaku kepada oncom

Sore ini saat akan membeli makanan untuk berbuka puasa, aku dikejutkan oleh sebuah panggilan yang tak lazim oleh ibu penjual makanan. Begini panggilannya, “Hei budak lontong, itu lontongnya sudah ada.” Sang suami yang sedang merenung diatas motor, kontan saja bergumam, “kok dipanggil budak lontong? Memang namanya dia si Lontong ya?” Akupun hanya tertawa sambil mengucapkan terimakasih mendengar panggilan sekaligus gumaman tersebut. Aku hanya tak menyangka, layaknya seorang mahasiswa, butuh hampir empat tahun sampai akhirnya gelar “Budak Lontong” melekat secara utuh pada diriku. Lelah sekali ternyata perjuangan mendapatkan sebuah gelar bung, hahaha.

Continue reading “cintaku kepada oncom”