Menghafal Kosa – Kata Tanpa Terjemahan

Setelah belajar bahasa Korea selama hampir 5 bulan, saya rasa baru sedikit kosa – kata yang saya tahu. Memang selama lima bulan ini, saya tidak terlalu memaksa diri untuk menghafal kosa – kata, saya lebih fokus mempelajari berbagai akhiran kata kerja menggunakan kosa – kata sekedarnya. Itupun tidak benar – benar saya hafal, hanya karena saya pergunakan berulang – ulang makanya saya menjadi hafal. Bukannya tidak mau menghafal kosa – kata, saya hanya belum menemukan cara yang cocok saja untuk menghafalnya.

Continue reading “Menghafal Kosa – Kata Tanpa Terjemahan”

Beda Bahasa Beda Candaan

Enjoy a Joke (http://wallpapercave.com)

Sudah hampir dua tahun semenjak pertama kali saya bisa belajar bahasa Inggris secara serius. Dari yang awalnya setengah mati menghafalkan 5 kosa – kata, sampai sekarang yang sudah bisa menulis menggunakan bahasa Inggris tanpa menggunakan kamus sama sekali.

Dalam perjalanan panjang ini, banyak sekali perbedaan yang saya pelajari antara bahasa persatuan saya dengan bahasa Inggris. Dari mulai kata – kata, etika ketika berbicara dengan orang tua, dan lain sebagainya. Tapi dari semua perbedaan yang ada, dua hal yang sangat menarik menurut saya adalah perbedaan dalam ‘gaya melucu’.

Sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suatu hal yang lucu di suatu negara belum tentu lucu di negara lain. Adakalanya suatu hal yang dianggap lucu oleh masyarakat di negara A, adalah hal yang sangat tabu untuk di bahas di negara B.

Contohnya di beberapa negara, membuat guyonan mengenai agama adalah suatu hal yang lucu manakala di negara lain hal ini adalah sebuah tindak kejahatan yang bisa mengantarkan pelakunya ke penjara. 😀

Okelah masalah suku, agama, dan ras memang tidak patut dijadikan candaan. Oleh karena itu, saya sekarang akan membahas tentang perbedaan guyonan dalam bahasa Inggris dan guyonan bahasa Indonesia secara umum saja.

Continue reading “Beda Bahasa Beda Candaan”

A Weird Thought

 There’s this night when I wrote something called ‘my language dream’ in a piece of paper. I don’t exactly remember what I wrote there, but the main point is about my dream of becoming a hyperglot whom master 15 languages or more. I remembered having all the language of my dream listed from English, Arabic, Chinese, Korean, German, France, and Spain until Japanese. The paper is gone now, I don’t know where I put it, but the dream is still burning deep inside me.
Two months later (which is today), I suddenly remember this so called ‘my language dream’ when I was sitting in mosque after Maghrib praying. I thought, ‘if I really am become fluent in those 15 languages, then what would I do with them?’. I’m trying so hard to answer this question, because what I understand is that studying language is useful if you have a plan to work, to live, or to travelling in a certain country. Also the famous jobs for these polyglots or hyperglots people is either become a language coach and providing a language course full of language hacks or become a translator. I don’t really want to become either one of them. So what should I do later?
In an instant, a weird idea appear; ‘What if I use my language skill to work in intelligence bureau? Legit right?’. Hahaha. I mean if I can communicate well with 15 languages, that’s going to be awesome in my CV when I applying job for intelligence folks right? I can analyze a lot of documents, I can interrogating people, I can taping people conversation in those 15 languages and understand them, and also I can become a higher up officer maybe in short amount of time? Hahaha.
It just a plain weird thought though. Please don’t bother. Working in intelligence bureau is not as cool as it looks on tv I think. I mean if I really am working in BIN (Indonesian Intelligence Bureau), I will have my identification be altered to hide my real identity; I can’t talk about your job to my family, friends, and people; also I will be holding a very classified documents in my palms which is as worthy as my life is, and so on so forth. Ughhh…. Just thinking about that already giving me a chill spine.
Anyway, it still a dream! Achieve it first, then think about it later. Hahaha! 😀

Praktik Berbahasa Asing dengan Monolog

Salah satu teknik yang selalu saya gunakan dari dulu untuk belajar bahasa Inggris, Spanyol, Arab, Korea, hingga bahasa Jerman sekarang adalah teknik monolog. Awalnya, saya mulai menggunakan teknik ini karena saya tidak punya teman penutur asli bahasa Inggris maupun teman Indonesia yang lancar berbahasa Inggris untuk berlatih. Tapi semakin sering mempraktikan monolog, semakin cinta saya terhadap teknik ini. Karena saat saya tidak punya sesiapun untuk latihan bahasa, saya masih bisa terus menerus meningkatkan kemampuan berbicara saya menggunakan bahasa asing yang sedang saya pelajari.

Salah satu anggapan umum yang sering saya dengar adalah; latihan berbicara dengan penutur asli adalah satu – satunya cara untuk melancarkan bahasa asing. Meskipun hal ini benar, pada kenyataannya sulit sekali untuk dilakukan. Karena pertama, kita harus bertemu dengan penutur asli, artinya latihan kita tergantung ada atau tidaknya kawan berlatih. Selain itu kalau pun bertemu dengan penutur asli, tidak semua bisa sabar menunggu kita yang berbicara terbata – bata. Apes – apes ya langsung ditinggal sama si native karena dia kesal. Oleh karena itu, disinilah teknik monolog berperan besar untuk membantu kita.

Continue reading “Praktik Berbahasa Asing dengan Monolog”

Tantangan Menulis Menggunakan Maksimal 500 Kata

[Reading Time: ~2 menit]

Konsep Melewati batas

Dalam seminar – seminar motivasi pengembangan diri, satu slogan yang sering digembor – gemborkan sebagai kunci sukses adalah ‘Melewati batas’ atau yang lebih dikenal dengan sebutan kerennya dalam Bahasa Inggris yaitu breaking the limit. Menurut saya pribadi, slogan breaking the limit adalah slogan yang sangat bagus. Karena jika kita melihat sejarah, kebanyakan pencapaian besar di dunia ini adalah hasil dari orang – orang yang berani melawan dogma umum tentang kemustahilan untuk melakukan suatu hal dalam kondisi terbatas.

Contohnya adalah Roger Bannister. Dengan disiplin latihan dan motivasi yang tinggi untuk menentang dogma umum, ia menjadi orang pertama yang berhasil mematahkan anggapan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk lari sejauh 1 mil (1.60934 km) dalam waktu dibawah 4 menit (Wikipedia).

Meskipun begitu, dalam beberapa kondisi, adakalanya membatasi diri atau don’t break the limit adalah lebih baik untuk dilakukan daripada melewati batas atau breaking the limit. Kenapa? Karena seringkali dalam kondisi terbataslah muncul berbagai macam solusi kreatif yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah kita hadapi.

Continue reading “Tantangan Menulis Menggunakan Maksimal 500 Kata”

Cepat Lancar Berbahasa Asing dengan Teknik Shadowing

Catatan awal: Tulisan ini cukup panjang, jadi usahakan bacanya dalam keadaan tenang. Hayati setiap kalimat, hahaha,  semoga mendapatkan hal yang bermanfaat. 🙂 

Kemarin saat sedang membaca tulisan – tulisan Jeremy yang punya akun youtube Motivate Korean, saya menemukan teknik belajar Bahasa yang oleh Jeremy dinamakan sebagai teknik shadowing. Dari namanya, sudah jelas bahwa teknik ini adalah teknik belajar Bahasa yang menggunakan prinsip membayangi atau kalau saya lebih senang mengatakannya dengan prinsip duplikasi identik. Seperti biasa gaya tulisan saya, pembahasan teknik shadowing ini akan saya lakukan sambil bercerita pengalaman pribadi. Jadi ya harap bersabar dan dinikmati saja ya tulisannya. Karena bagaimanapun juga, teknik shadowing ini benar – benar membantu meningkatkan kemampuan percakapan dan memperluas penguasaan kosa – kata Bahasa Inggris saya dari yang awalnya mungkin hanya 10% menjadi hampir 90% dalam waktu enam bulan. Dengan didahului oleh cerita saya, harapannya pembaca akan lebih mudah mendapat bayangan bagaimana eksekusi riil teknik shadowing ini untuk belajar Bahasa Asing.

Continue reading “Cepat Lancar Berbahasa Asing dengan Teknik Shadowing”

Membuat Kalimat Panjang dalam Bahasa Korea itu Tidak Sulit!

Halo semua, apa kabar? Sudah terlalu lama saya hiatus, sekarang jadinya sedikit kagok waktu nulis. Hahaha. Okedeh, langsung aja. Jadi hari ini, saya ingin berbagi cerita yang mungkin bisa membantu mengurangi stress teman – teman yang sedang belajar bahasa Korea. Seperti yang kita tahu, bahasa Korea itu mempunyai struktur tulisan yang berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Struktur dasar kalimat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah Subjek – Predikat – Objek (SPO), sedangkan dalam bahasa Korea struktur dasar kalimat adalah Subjek – Objek – Predikat (SOP), jadi ada perbedaan letak objek dan predikat antara bahasa Indonesia/Inggris dengan bahasa Korea.

Continue reading “Membuat Kalimat Panjang dalam Bahasa Korea itu Tidak Sulit!”